Catatan dari Luka yang Tak Terlihat

 

Ilustrasi perempuan duduk menyendiri di jendela, tenggelam dalam kesedihan. (Sumber: Freepik.com)


Ditulis Oleh: Puji Khoirunnisa

Terlihat kuat adalah pujian yang sering disematkan, tapi jarang dipahami. Tak ada yang tahu, di balik senyum yang dipaksakan, ada hati yang terus berjuang untuk tetap utuh. Dunia hanya melihat hasil, bukan perjuangan yang mengoyak batin setiap harinya.

Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak menangis, tidak mengeluh, dan terus maju seolah tak ada luka yang bisa menghentikan langkahku. Tapi siapa yang pernah bertanya, apakah aku baik-baik saja? Apakah aku pernah diberi waktu untuk runtuh tanpa dicemooh?

Semua orang bicara soal takdir dan jalan hidup, namun tak pernah benar-benar menjelaskan bahwa jalan itu kadang tak tampak seperti jalan. Lubang, jurang, dan sepi adalah teman yang menyamar sebagai ujian. Dan aku dipaksa untuk terus berjalan, meski setiap langkah menyisakan serpihan luka yang baru.

Ketika Kuat Itu Bukan Pilihan

Aku tidak diberi pilihan selain menjadi kuat. Hidup seperti menuntutku untuk bangkit bahkan sebelum aku sempat jatuh. Aku merasa dunia ini selalu terburu-buru menagih tawa dari wajah yang bahkan belum selesai menangis.

Ratih Ibrahim, seorang psikolog klinis, mengingatkan bahwa sering kali kita menjadi pengkritik paling keras terhadap diri sendiri. Tekanan untuk selalu tampil kuat tanpa memberi ruang untuk rapuh dapat menyebabkan kelelahan emosional yang mendalam. Dan aku pikir, mungkin itulah yang selama ini terjadi padaku. Aku terlalu sering dianggap mampu, padahal aku hanya terbiasa menyembunyikan luka.

Aku membawa beban yang bukan milikku, rasa bersalah atas keputusan yang bukan kuambil, dan tanggung jawab yang jatuh begitu saja di pundakku. Di saat semua orang berdoa untuk kemenangan, aku hanya berdoa untuk bisa tidur tanpa menangis. Tak banyak yang tahu, hidup sederhana saja kadang terasa terlalu mewah untuk kuminta.

Aku sering bertanya pada Tuhan, “Jika aku memang sekuat yang Kau kira, mengapa rasanya seperti hidup ini perlahan membunuhku dari dalam?” Tapi doa itu hanya melayang di antara temaram malam dan tubuh yang gemetar dalam keheningan. Tidak ada jawaban, hanya waktu yang terus berjalan tanpa arah.

Bertahan Tanpa Bahagia

Ketika dunia tak memberimu ruang untuk sembuh, kamu mulai kehilangan kepercayaan bahwa kamu pantas untuk bahagia. Setiap kali aku mulai berharap, kenyataan datang dan merobohkan semua yang mulai aku bangun. Seolah dunia ingin berkata, "Tidak ada ruang untukmu di sini."

Viktor E. Frankl, seorang psikiater dan penulis buku Man's Search for Meaning, mengatakan, "Seseorang yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir semua hal." Tapi bagaimana jika alasan itu terus menghilang setiap kali hendak digenggam? Aku mulai merasakan itu. Aku tidak pernah meminta banyak, hanya ingin sehari tanpa luka baru.

Aku bukan pejuang yang ingin piala, aku hanya ingin damai. Mungkin pelangi itu nyata, tapi aku belum pernah melihatnya sejak badai ini datang. Aku lelah basah oleh hujan yang tak kunjung reda, dan tubuhku tak lagi bisa menggigil karena telah terbiasa dengan dingin.

Tuhan, jika masih ada rencana baik untukku, tunjukkanlah walau hanya secuil. Aku tidak ingin pergi sebelum tahu kenapa aku harus bertahan sejauh ini. Tapi jika rasa sakit ini harus menetap lebih lama, biarlah hatiku tetap memiliki alasan untuk terus berdenyut.

Kadang yang kita butuhkan bukan pelukan atau kata-kata bijak. Tapi cukup diyakini bahwa rasa sakit ini tidak sia-sia. Dan bahwa bertahan hari ini pun, adalah bentuk kemenangan yang tak semua orang bisa lihat.

Tiba-tiba saja, langit yang tadinya mendung terasa lebih ringan. Tak ada pelangi, tak ada keajaiban, hanya seberkas cahaya kecil yang menyusup lewat celah tirai jendela. Mungkin bukan akhir bahagia, tapi cukup untuk membuatku membuka mata dan percaya bahwa esok masih layak ditunggu.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama